Tampilkan postingan dengan label Terapiutik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapiutik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2013

KOMUNIKASI TERAPIUTIK



Dosen : Bu Suharti
SILABUS : KOMUNIKASI KEPERAWATAN

PENDAHULUAN
Hubungan perawat pasien adalah hal penting dalam pelayanan keperawatan.Mata ajaran ini mendeskripsikan tentang pengertian komunikasi terapeutik, hubungan profesional antara perawat dan pasien, sehingga perawat mampu mempertanggungjawabkan hubungan terepeutik dengan pasien. Dimana perawat adalah orang yang paling dekat dan seharusnya memahami masalah pasien secara komprehensif sehingga pelayanan kesehatan akan dilakukan secara menyeluruh.
-Tujuan instruksional umum (standar kompetensi)
-Perawat mampu melakukan teknik komunikasi terapeutik dengan pasien/klien.
-Tujuan instruksional khusus (kompetensi dasar)
Mengetahui sifat hubungan perawat pasien.
Mengidentifikasi definisi komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien.
Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi komunikasi.
Menggunakan teknik-teknik komunikasi dengan klien.
Menganalisa kemampuan komunikasi yang dipunyai oleh perawat.
KOMUNIKASI TERAUPETIK
Perawat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi secara terapeutik tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien, mencegah terjadinya masalah legal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi pelayanan keperawatan serta citra rumah sakit (Achir Yani), tetapi yang paling penting telah mengamalkan ilmunya untuk sesama manusia.
Dalam tulisan ini akan dibahas tentang pengertian komunikasi terapeutik, karakteristik, fase dan dimensi “helping relationship”, termasuk “therapeutic use of self” untuk praktek keperawatan, serta sikap dan teknik komunikasi terapeutik.
KOMUNIKASI TERAPEUTIK SABAGAI TANGGUNG JAWAB MORAL PERAWAT
Perawat harus memiliki tanggung jawab yang tinggi yang didasari atas sikap peduli dan kasih sayang, serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Abdalati (1983), Bucauli (1978) dan Amsari(1995) menambahkan bahwa sebagai orang yang beragama, perawat tidak dapat bersikap tidak peduli. Individu yang tidak peduli terhadap orang lain adalah seorang pendosa yang mementingkan dirinya sendiri.
Selanjutnya Pasquali&Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa “human care” terdiri dari upaya yang melindungi, meningkatkan dan menjaga/mangabadikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain dalam mencari arti dalam sakit, penderitaan dan keberadaannya : membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri,…. Sesungguhnyalah setiap orang diajarkan oleh Allah untuk menolong sesama yang memerlukan bantuan.Perilaku menolong sesama itu perlu dilatih dan dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi bagian dari kepribadian.
PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK “ HELPING RELATIONSHIPS “
Seorang perawat profesional selalu mengupayakan untuk berprilaku terapeutik, yang berarti bahwa tiap interaksi yang dilakukan menimbulkan dampak terapeutik yang memungkinkan klien untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien yang menurut Stuart dan Sundeen (1995) dan Limberg, Huter & Kruszweski (1983) meliputi :
-realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri;
-indentitas diri yang jelas dan rasa integritas yang tinggi;
-kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dan mencintai;
-peningkatan fungsi dan kemampuan memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.
Tujuan hubungan terapeutik akan tercapai apabila perawat dalam “helping relationship “ memiliki karakteristik sebagai berikut.
-Kesadaran diri terhadap yang dianutnya.
Perawat mampu menjelaskan tentang diri sendiri, keyakinan, apa yang menurutnya penting dalam kehidupannya, baru kemudian ia akan mampu menolong orang lain menjawab pertanyaan tersebut.
-Kemampuan untuk menganalisa perasaan sendiri.
Perawat secara bertahap belajar mengenal dan mengatasi berbagai perasaan antara lain perasaan marah, duka dan frustasi.
-Kemampuan menjadi contoh peran.
Perawat perlu mempunyai pola dan gaya hidup yang sehat termasuk mempertahankan kesehatan agar dapat dicontoh orang lain.
-Altruistik.
Perawat merasakan kepuasan karena mampu menolong orang lain dengan cara manusiawi.

-Rasa tanggung jawab etik dan moral.
Tiap keputusan yang  dibuat selalu memperhatikan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi kesehatan/ kesejahteraan manusia.
Tanggung jawab.
Dua dimensi tanggung jawab yaitu bertanggung jawab terhadap tindakan sendiri dan berbagi tanggung jawab dengan orang lain.
Dengan karakteristik tersebut, diharapkan perawat akan mampu menggunakan dirinya sendiri secara terapeutik (therapeutic use of self). Selanjutnya upaya perawat untuk meningkatkan kemampuan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang dinamika komunikasi, penghayatan terhadap kelebihan dan kekurangan diri, dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain sangat diperlukan dalam “therapeutic use of self”. Menggunakan diri secara terapeutik memerlukan integrasi dari ketiga kemampuan tersebut (Achir Yani, 1995).
JENIS KOMUNIKASI
Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang pernah terjadi antara sedikitnya dua orang atau lebih dalam kelompok kecil, terutama dalam bentuk tatap muka dan paling sering digunakan dalam pelayanan keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagi ide, pengambilan keputusan dan pertumbuhan personal.Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non verbal.
-KOMUNIKASI VERBAL
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan objek, observasi dan ingatan.Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang.Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.
Komunikasi verbal yang efektif harus :
-jelas dan ringkas.
Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung.Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadi kerancuan.Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas.Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami.Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerima pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa, dan dimana. Ringkasnya, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana.“ Katakan kepada saya dimana rasa nyeri anda” lebih baik dari pada “saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yang anda rasakan tidak enak”.
-perbendaharaan kata.
Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika digunakan oleh perawat, klien menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting.Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti oleh klien. Dari pada mengatakan “duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru-paru anda“ akan lebih baik jika dikatakan “duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”.
-arti denotatif dan konotatif.
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata “serius” dipahami oleh klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan menggunakan kata “kritis” untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah disalahtafsirkan.Terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien.
-selaan dan kecepatan bicara.
Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas.Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat non verbal dari para pendengar yang mungkin menunjukkan ketidakmengertian. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.
-waktu dan relevansi.
Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan.Bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya menjelaskan resiko operasi.Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu yang tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat.Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.
-humor.
Dugan (1998) menyatakan bahwa tertawa membantu mengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stress, meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines , mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernafasan dan meningkatkan metabolisme. Namun perawat perlu berhati-hati jangan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.
KOMUNIKASI NON VERBAL
Komunikasi non verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling tepat dan menyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, kareana isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mempersepsikan pesan non verbal akan lebih mampu memahami klien, mendeteksi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.
Komunikasi non verbal teramati pada :
-metakomunikasi.
Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di balik kata-kata yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar contoh : tersenyum ketika sedang marah.
-penampilan personal
Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan selama komunikasi interpersonal.Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama.Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seseorang berdasarkan penampilannya (Lalli-ascosi, 1990 dalam potter dan Perry, 1993). Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekerjaan, agama, budaya dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan profesional yang positif.Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan yang diterima, karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seseorang perawat. Walaupun penampilan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat tidak memenuhi citra klien.
-intonasi (nada suara).
Nada suara pembicaraan mempunyai dampak yang besar terhadap arti sebuah pesan yang dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya.Perawat harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena maksud untuk menyampaikan rasa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh nada suara perawat.

-ekspresi wajah.
Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yamg tampak melalui ekspresi wajah : terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpersonal.Kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal.Orang yang mempertahankan kontak mata selama pembicaraan dipersepsikan sebagai orang yang dapat dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik.Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya duduk sehingga perawat tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.
-sikap tubuh dan ekspresi wajah.
Sikap tubuh dan ekspresi  menggambarkan sikap, emosi, konsep diri, dan keadaan fisik. Perawat dapat menyimpulkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien.Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat atau fraktur.
-sentuhan.
Kasih sayang, dukungan emosional, dan perhatian disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien, namun harus memperhatikan norma sosial. Ketika memberikan asuhan keperawatan, parawat menyentuh klien, seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau membantu memakaikan pakaian.Perlu disadari bahwa keadaan sakit membuat klien tergantung kepada perawat untuk melakukan kontak interpersonal sehingga sulit untuk menghindari sentuhan.Bradley & Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992) menyatakan bahwa perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan dapat dimengerti dan dapat diterima oleh klien, sehingga harus dilakukan dengan kepekaan dan hati-hati.
FASE-FASE “HELPING RELATIONSHIPS”
Stuart dan Sundeen (1995) mengenalkan empat fase “helping relationships” yang berkembang secara berurutan dan tiap fase mempunyai tugas yang berbeda.Fase hubungan tersebut adalah sebagai berikut.
-Fase prainteraksi.
Pada fase prainteraksi, tugas keperawatan adalah (1) menggali perasaan, fantasi, dan rasa takut dalam diri sendiri; (2) menganalisis kekuatan dan keterbatasan profesional diri sendiri; (3) mengumpulkan data tentang klien jika memungkinkan; (4) merencanakan pertemuan pertama dengan klien.
-Fase orientasi dan perkenalan.
Tugas keperawatan pada fase ini adalah (1) menetapkan alasan klien untuk mencari bantuan; (2) membina rasa saling percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka; (3) menggali pikiran, perasaan dan tindakan klien; (4) mengidentifikasikan masalah klien; (5) mendefinisikan tujuan dengan klien; (6) merumuskan bersama kontrak termasuk nama, peran, tanggung jawab, harapan, tujuan, tempat pertemuan, waktu pertemuan, kondisi untuk terminasi, dan kerahasiaan.
-Fase kerja.
Menurut Stuart dan Sundeen (1995) pada fase kerja, keperawatan bertugas; (1) menggali stressor yang berhubungan; (2) meningkatkan pengembangan penghayatan klien dan penggunaan mekanisme koping yang konstruktif; dan (3) membahas dan mengatasi perilaku resisten.
-Terminasi.
Dalam fase terakhir ini, keperawatan bertugas; (1) membina kenyataan tentang perpisahan; (2) meninjau kemajuan terapi dan pencapaian tujuan; dan (3) menggali bersama perasaan ditolak, kehilangan, kesedihan dan kemarahan serta perilaku yang terkait lainnya.
TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan teknik komunikasi yang berbeda pula. Teknik komunikasi berikut ini, terutama menggunakan referensi dari Shives (1994), Stuart dan Sundeen (1995), Wilson dan Kneisl (1992), yaitu
-mendengarkan dengan penuh perhatian
Berusaha mendengarkan klien, menyampaikan pesan non verbal bahwa perawat perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien.Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non verbal yang sedang dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah dengan :
-pandang klien ketika sedang berbicara,
-pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan,
-sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan,
-hindarkan gerakan yang tidak perlu,
-anggukkan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik,
-condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
-menunjukkan penerimaan
Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Tentu saja sebagai perawat kita tidak harus menerima semua perilaku klien.Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang menerima apa yang dikatakan klien.
-Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.
-Memberikan umpan balik verbal yang menampakkan pengertian.
-Memastikan bahwa isyarat non verbal cocol dengan komunikasi verbal.
-Menghindarkan untuk berdebat, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk mengubah pikiran klien.
    Perawat dapat menganggukkan  kepalanya atau berkata “ya”, “saya mengikuti apa yang Anda ucapkan “ (Cook, 1997).
-menanyakan pertanyaan yang berkaitan
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai klien.Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien.Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan.
-mengulang ucapan klien dengan menggunakan  kata-kata sendiri
Dengan mengulang kembali ucapan klien, perawat memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan mengharapkan komunikasi berlanjut.Namun perawat harus berhati-hati ketika menggunakan metode ini, karena pengertian bisa rancu jika pengucapan ulang mempunyai arti yang berbeda.
Contoh : K : “Saya tidak dapat tidur, sepanjang malam saya terjaga.”
P  : “Saudara mengalami kesulitan untuk tidur…….”
-mengklarifikasi
Apabila terjadi kesalahpahaman, perawat perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasikan dengan menyamakan pengertian, karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan keperawatan.Agar pesan dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh yang konkret dan mudah dimengerti klien.
Contoh : – “Saya tidak yakin saya mengikuti apa yang Anda katakan “
- “Apa yang Anda katakan tadi adalah……………”
-memfokuskan
Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti.Perawat tidak seharusnya memutuskan pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru.
Contoh: “Hal ini tampaknya penting, mari kita bicarakan lebih dalam lagi.”
-menyatakan hasil observasi
Perawat perlu memberikan umpan balik kepada klien dengan menyatakan hasil pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan diterima dengan benar.Menyampaikan hasil pengamatan perawat sering membuat klien berkomunikasi lebih jelas tanpa harus bertanya, memfokuskan atau mengklarifikasi pesan.
Contoh : – “Anda tampak tegang “
- “Apakah Anda merasa tidak tenang apabila Anda……………”
-menawarkan informasi
Tambahan informasi memungkinkan penghayatan yang lebih baik bagi klien terhadap keadaannya., memberikan tambahan informasi merupakan penyuluhan kesehatan bagi klien perawat. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, perawat perlu mengklarifikasi alasannya.Perawat tidak boleh memberikan nasihat kepada klien ketika memberikan informasi, tetepi memfasilitasi klien untuk membuat keputusan.
-diam
Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikirannya. Penggunaan metode diam memerlukan ketrampilan dan ketepatan waktu, jika tidak maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam memungkinkan klien  berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan memproses informasi. Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan.
-meringkas
Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat.Metode ini bermanfaat untuk membantu mengingat topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan selanjutnya.Meringkas pembicaraan membantu perawat mengulang aspek penting dalam interaksinya, sehingga dapat melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.
Contoh : – “Selama beberapa jam, Anda dan saya telah membicarakan….”
-memberikan penghargaan
Memberikan salam kepada klien dengan menyebutkan namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi, menghargai klien sebagai manusia seutuhnya mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu. Penghargaan tersebut jangan sampai menjadi beban baginya, dalam arti kata jangan sampai klien berusaha keras melakukan segalanya demi mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya.Dan tidak pula dimaksudkan untuk menyatakan bahwa yang ini “bagus” dan yang sebaliknya “buruk”.
Peplau mengatakan: “Apabila klien mencapai sesuatu yang nyata, maka perawat dapat mengatakan yang demikian”.
Contoh : – “Selamat pagi Ibu Sri”, atau “Assalamualaikum”
- “Saya perhatikan Ibu sudah menyisir rambut Ibu”
Dalam ajaran islam, memberi salam dan penghargaan menggambarkan akhlak terpuji, karena berarti mendoakan orang lain memperoleh rahmat dari Allah SWT. Salam menunjukkan betapa perawat peduli terhadap orang lain dengan bersikap ramah dan akrab
-menawarkan diri

Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain, atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya mengerti. Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa tertarik, teknik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.
Contoh : – “Saya akan duduk bersama sebantar.”
- “Saya ingin Anda merasa tenang dan nyaman.”
-memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan
Memberi kesempatan pada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.Biarkan klien merasa bahwa dia yang memimpin pembicaraan. Untuk klien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang peranannya dalam interaksi ini, perawat dapat menstimulasinya untuk mengambil inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.
Contoh : – “Adakah sesuatu yang ingin Anda bicarakan?”
- “Apa yang sedang Saudara pikirkan?”
- “Darimana Anda ingin memulai pembicaraan ini?”
-menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Teknik ini menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang mengidentifikasi bahwa klien sedang mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan selanjutnya. Perawat lebih berusaha untuk menafsirkan daripada mengarahkan diskusi/pembicaraan.
Contoh: – “………teruskan….?”
- “………dan kemudian…..?”
- “Ceritakan kepada saya tentang itu…”
-menempatkan kejadian dan waktu secara berurutan
Mengurutkan kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Kelanjutan dari suatu kejadian akan menuntun perawat dan klien untuk melihat kejadian berikutnya sebagai akibat kejadian yang pertama. Perawat akan dapat menemukan pola kesukaran interpersonal, dan memberikan data tentang pengalaman yang memuaskan dan berarti bagi klien dalam memenuhi kebutuhannya.
Contoh : – “Apakah yang terjadi sebelum dan sesudahnya?”
- “Kapan kejadian tersebut terjadi?”
-menganjurkan klien untuk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segalanya dari perspektif. Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. Ketika menceritakan pengalamannya, perawat harus waspada akan timbulnya gejala ansietas.
Contoh : – “Ceritakan kepada saya bagaimana perasaan Saudara ketika akan dioperasi”
- “Apa yang sedang terjadi?”
-refleksi
Refleksi menganjurkan klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Apabila klien bertanya apa yang harus ia pikirkan dan kerjakan atau rasakan, maka perawat dapat menjawab: “Bagaimana menurutmu?” atau “Bagaimana perasaanmu?”.Dengan demikian perawat mengidentifikasi bahwa pendapat klien adalah berharga dan klien mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya, untuk membuat keputusan, dan memikirkan dirinya sendiri. Menyadari bahwa perawat mengharapkan klien untuk mampu melakukan hal tersebut, maka iapun akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang mempunyai kapasitas dan kemampuan sebagai individu yang terintegrasi dan bukan sebagai bagian daripada orang lain.
Contoh: K : “Apakah menurutmu saya harus mengatakannya kepada dokter?”
P  : “Apakah menurut Anda , Anda harus mengatakannya?”
K : “Suami saya sudah lama tidak datang mengunjungi saya, bahkan tidak menelpon saya, kalau dia datang saya tidak ingin berbicara dengannya”
P : “ Ini menyebabkan Anda marah”.
LATIHAN

Program latihan empati di rumah, dengan komunikasi dengan orang yang paling dekat, refleksikan kemampuan perawat dalam melatih menggunakan teknik komunikasi klarifikasi, refleksi dan membagi persepsi.
Perawat dibagi kelompok masing-masing 3 orang, satu sebagai perawat, satu sebagai pasien, satu sebagai observer.
Dengan skenario, perawat di poliklinik, bagaimana perawat berkomunikasi dengan pasien.
    Tugas observer :

menilai perawat, bagaimana dia mendengar,
memfokuskan pertanyaan,
mengklarifikasi,
teknik komunikasi yang digunakan,
memperhatikan bahasa non verbal pasien dan perawat,
melaporkan hasil observasi pada kelompok lain,
masukan dari kelompok.

Kesimpulan tentang beberapa yang penting dilatih terus dan melakukan refleksi tentang perasaan dan pikiran perawat pada saat menghadapi pasien.

TEST FORMATIF

    Pada tahap apa Anda melakukan kontrak dengan pasien?

pra interaksi
interaksi
terminasi
kerja
kontrak

Pasien datang ke RSJ dengan halusinasi mendengar bahwa “ada sesorang yang mau membunuhnya”. Pengkajian yang harus di kembangkan berfokus pada

apa yang terjadi di rumah
riwayat hidup
teman bergaul
pekerjaan
orang tuanya

    Mengenal pasien dengan mengumpulkan data apa adanya termasuk tahap apa dalam hubungan perawat pasien?

pre interaksi
interaksi
kerja
terminasi
kontrak

    Dalam hubungan terapeutik, mengenal kesedihan karena perpisahan termasuk tahap

pre interaksi
interaksi
kerja
terminasi
kontrak

    Dalam hubungan terapeutik, mengenal kelemahan dan kelebihan perawat sendiri termasuk tahap

pre interaksi
interaksi
kerja
terminasi
kontrak

    Bila pasien tidak mau diajak berkomunikasi oleh seorang perawat, penyebabnya adalah

belum kenal
karena perawat
belum berpengalaman
tidak ada rasa percaya pasien
pasien sedang mau sendiri

    Bila perawat mengatakan “Apa yang Ibu maksud dengan tidak betah di RS?” termasuk teknik komunikasi

klarifikasi
pertanyaan terbuka
informasi
humor
membagi persepsi

    Kalau perawat menggunakan tehnik komunikasi klarifikasi  dengan pertanyaan “bisa ibu ceritakan apa yang dimaksud ibu marah sama suami” tujuannya adalah:

    Supaya ibu cerita
    Agar dapat terjadi komunikasi yang baik
Menolong ibu untuk merasakan perasaannya yang sebenarnya terhadap suaminya.
    Agar masalahnya dengan suami bisa diatasi dengan bain
Agar ibu tersebut lega dan tidak marah lagi.

    Bagaimana cara meningkatkan kesadaran diri?

membuka diri pada orang lain
terbuka
ramah
percaya dengan orang lain
baik dengan orang lain.

    Kesadaran diri yang tinggi menurut Johari Window, daerah yang harus diperluas dalam hati kita adalah

publik
semi publik
rahasia
buta
semu

    Kalau seseorang dianggap judes, tetapi dia tidak merasa judes, orang tersebut tergolong pada daerah

publik
semi publik
rahasia
buta
semu

    Pada saat Anda ditugasi mengelola satu kasus, kemudian anda merencanakan pertemuan pertama dengan pasien yang ternyata sudah sampai satu minggu dirawat, langkah pertama Anda adalah

bertanya nama dan alamat serta diagnosa
mencari informasi dari perawat ruangan
mencari status pasien
menyusun daftar pertanyaan
langsung menemui pasien

    Ciri-ciri hubungan terapeutik adalah, kecuali

memberi jaminan kembali
tujuan spesifik
batas waktu jelas
berfokus pada klien
ada kontrak atau perjanjian

    Elemen-elemen berikut ini harus dikerjakan perawat pada fase pertama hubungan terapeutik, kecuali

perkenalan perawat-klien
membuat tujuan yang akan dicapai
menentukan lamanya waktu
negosiasi waktu pertemuan
negosiasi imbalan jasa yang diberikan

    Komunikasi dikatakan efektif bila

penyampaian pesan berjalan sangat lancar
penyampaian pesan dapat menjangkau banyak orang
pesan disampaikan dengan bahasa sederhana
pesan dapat menjadi milik penerima
pesan disampaikan melaui media menarik

    “apa yang dimaksud dengan ibu bingung?, adalah contoh teknik komunikasi:
        Tehnik klarifikasi
        Tehnik membagi persepsi
        Tehnik diam
        Tehnik refleksi
        Tehnik focusing

pada saat pasien memberikan kartu berobat kepada perawat, perawat bertanya” ibu mau dioperasi”?tehnik komunikasi apa yang  digunakan perawat?
        Tehnik klarifikasi
        Tehnik membagi persepsi
        Tehnik diam
        Tehnik refleksi
        Tehnik focusing

“ ibu kelihatan capai, apakah ada hubungannya  tadi malam tidak bisa tidur ?, tehnik komunikasi apa yang digunakan perawat?
        Tehnik klarifikasi
        Tehnik membagi persepsi
        Tehnik diam
        Tehnik refleksi
        Tehnik focusing

    “ners saya mau pulang” , respon terbaik perawat adalah
        “bisa ibu ceritakan apa yang ibu rasakan”?
“ ya bu nanti ibu pulang”
        “ingin cepat pulang bu”?
        “Ya bu harus mengurus administrasi dulu”
“ boleh”

Pasien  dengan post amputasi kaki kiri karena kecelakaan lalu lintas, tidak mau memperlihatkan kakinya, dia mengatakan “kaki saya tidak apa-apa kok”. Pernyataan pasien tersebut menunjukan

belum menerima keadaan post amputasi
gangguan harga diri
gangguan citra tubuh
gangguan konsep diri
gangguan sosial

KUNCI JAWABAN:
1.b, 2. a. 3.a, 4.d, 5. a. 6. d, 7.a, 8.c, 9. a, 10.a, 11.b, 12.c, 13.a, 14.a, 15.d, 16.a, 17.b, 18. b, 19.a, 20. c.
RANGKUMAN
Kemampuan menerapkan teknik komunikasi memerlukan latihan dan kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi tidak dalam kehampaan, tetapi dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak terapeutiknya bagi klien dan juga kepuasan bagi perawat.
DAFTAR PUSTAKA
Cook, j.S., dan Fontaine, K.L. (1987).Essentials of Mental Health Nursing.California :addition-Wesley Publishing Company.
Kozier, B., dan Erb., G. (1992) Fundamental of Nursing : Concepts and Procedure. (2 nd ed). California : Addition Wesley Publishing  Company
Lindberg., J.B. Hunter, M.L., dan Kruszewki, A.Z. (1983). Introduction to Person-Centered Nursing.Philadelphia : J.B. Lippincott Company.
Potter, P.A., dan perry, A.G., (1989). Fundamentals of Nursing Concepts, Process and Practice. (2 nd ed). St Louis :  The Mosby Company.

Senin, 14 Oktober 2013

Komunikasi Terapiutik



DISAMPAIKAN UNTUK PERKULIHANAN
PROGRAM D III KEPERAWATAN

Dosen : SUHARTI SKM M Kes
Oleh : Intan Nur (Indi)
KOMUNIKASI TERAPIUTIK

DESKRIPSI MATA AJAR :
Membahas tentang komunikasi terapiutik dan penggunaan diri sendiri secara terapiutik.
Sebagai landasan utama dalam mengintegrasikan kemampuan profesional perawat dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan profesional dalam kemampuan klinik dan komunitas.
TUJUAN MATA AJARAN :
Peserta didik mampu memahami :
Mampu memahami konsep komunikasi terapiutik dalam keperawatan
Menerapkan konsep Komunikasi terapiutik dalam keperawatan.
Menerapkan konsep penggunaan diri sendiri secara terapiutik dan penggunaan diri sendiri pada kasus kasus tertentu.
           
•         POKOK BAHASAN
  1. KONSEP KOMUNIKASI
  2. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI
  3. PRINSIP KOMUNIKASI TERAPIUTIK
  4. TAHAPAN HUBUNGAN TERAPIUTIK
  5. PENGGUNAAN DIRI PERAWAT SECARA TERAPIUTIK
  6. SIKAP DAN KOMUNIKASI TERAPIUTIK PELAYANAN ASUHAN KEPERAWATAN
•         Manusia mempunyai suatu dorongan dari dalam dirinya
            untuk saling berhubungan dengan sesamanya.
•         Stabilitas dan kesehatan organisasi tergantung dari keberhasilannya dalam menghadapi kompleksitas hubungan internalnya dan memiliki cara-cara yg efektif utk berhubungan dg dunia luar.
•         Jika hubungan terputus/menjadi stress,pada umumnya ditunjuk sbg penyebab adalah komunikasi yg buruk. Contoh : saya benar-benar tdk bisa menembus pimpinan saya,ia tdk ingin tahu apa yg saya katakan.
•         Seringkali masalah dalam berhubungan berasal dari komunikasi itu sendiri dan bukan pada apa yg dokomunikasikan.Bukan apa yg dikatakan ttp cara dia mengatakannya.
•         Menurut Dr.Phill Astrid Susanto :
            “ Komunikasi adalah proses pengoperan lambang
                lambang yg mengandung arti “.
•         Menurut Keith Davis
            “ Komunikasi ad alah proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain.”
•         Menurut Oxford Dictionary
            “ Komunikasi adalah pengiriman atau tukar manukar informasi,ide dsb.”
•         Menurut Drs. Onong Uchajana Effendy,MA.
            “Komunikasi mencakup ekspresi wajah,sikap dan gerak – gerik suara,kata-kata tertulis,percetakan,kereta api,telepon dll “
•         Kesimpulan : komunikasi adalah penyampaian dari seseorang kpd orang lain,dg menyertakan kode atau lambang penyampaian itu sendiri melalui proses.
•         KOMPONEN DASAR KOMUNIKASI
Contoh :
   ambillah kalimat seperti ini “ saya akan menemui anda di kantor siang ini “ bersama rekan anda.
    cobalah melihat beberapa banyak variasi arti yg dapat anda temukan hanya dg mengubah cara anda mengatakan.
Apa yang anda simpulkan dari latihan ini ?
•         PROSES KOMUNIKASI
MACAM – MACAM KOMUNIKASI :
  1. Komunikasi searah.
  2. Komunikasi dua arah.
  3. Komunikasi berantai
BENTUK KOMUNIKASI :
  1. Komunikasi verbal.
  2. Komunikasi non verbal.
FAKTOR – FAKTOR YG MEMPENGARUHI
KOMUNIKASI
1. Kecakapan.             3. Pengetahuan.
2. Sikap                                   4. Sistem sosial
•         PENGERTIAN KOMUNIKASI
  1. SECARA ETIMOLOGIS.
            Komunikasi berasal dari kata :
            cum    : yg berarti dengan / bersama dengan.
            umus : yg berarti satu
            Communio : kebersamaan dibuat
            Communicare : membagi sesuatu dg seseorang.
2. SECARA HARAFIAH
            Komunikasi mempunyai arti pemberitahuan,pembicaraan,percakapan pertukaran pikiran atau hubungan.
•         UNSUR – UNSUR KOMUNIKASI
  1. PIHAK YANG MENGAWALI
            Disebut komunikator,pengirim :
            orang yg mengirim pesan.
  1. PESAN YG DIKOMUNIKASIKAN
            Pesan yg beraturan apabila tersusun baik,lengkap dpt dipahami sbg suatu pesan yg dapat dimengerti.
  1. SALURAN KOMUNIKASI
            Disebut chanel atau alat yg digunakan oleh pengirim pesan. Mis : HP,televisi,Email dst.
  1. SITUASI KOMUNIKASI
            Komunikasi dpt terjadi dlm situasi tempat,waktu,keadaan.
  1. GANGGUAN KOMUNIKASI.
            Adl sgl sesuatu  yg menghambat/mengurangi kemampuan kita utk mengirim dan menerima pesan.
6.         PIHAK YG MENERIMA.
            Biasanya disbt Komunikan/komunikator.
7.         UMPAN BALIK DAN DAMPAK.
            Tanggapan dari penerima atas pesan yg diterimanyaapat bersifat
            positif atau negatif. .
FAKTOR – FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KOMUNIKASI.
•         Kecakapan Komunikator.
•         Sikap Komunikator.
•         Pengetahuan Komunikator.
•         Sistem sosial.
•         Pengaruh lain
 KECAKAPAN KOMUNIKATOR.
Komunikator yg baik adl menguasai :
•         Cara menyampaikan buah pikiran
•         Mudah dimengerti
•         Sederhana baik lisan maupun tulisan
•         Bisa membangkitkan minat
•         Pandai menarik perhatian
•         Dapat memancing lawan bicara
•         Tidak berbelit – belit.
SIKAP KOMUNIKATOR
Sikap komunikator yang baik :
•         Sikap terbuka     
•         Muka manis
•         Rendah hati
•         Dapat menjadi pendengar yang baik
PENGETAHUAN KOMUNIKATOR
•         Keberhasilan dari komunikator dipengaruhi oleh pengetahuan oleh pihak komunikator.
•          Semakin dalam komunikator mengusai masalah akan semakin baik dalam memberikan uraian.
SISTEM SOSIAL
•         Komunikasi dipengaruhi oleh sosial sebagai contoh pembicaraan seorang mhs terhadap dosen akan berbeda dengan pembicaraan kepada teman setingkat. Begitu pula berbicara dg masyarakat t3 mereka akan menyesuaikan sifat-2 masyarakat.
•          Hal ini sangat penting utk menghindari adanya kesenjangan.
PENGARUH KOMUNIKASI
•         Pengaruh komunikasi lain adalah saluran atau alat tubuh dari konunikator terutama dalam komunikasi lisan mis : suara mantap,ucapan jelas,intonasi suara yg tdk monoton akan lebih banyak menarik perhatian dmkn pula gerak – gerik tubuh yg mendukung suatu pembicaraan
FAKTOR -2 YANG MENGHAMBAT 
KOMUNIKASI
•         Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi.
•         Sikap yang kurang tepat.
•         Kurang Pengetahuan.
•         Kurang memahami sistem sosial.
•         Prasangka yang tidak beralasan.
•         Jarak Fisik komunikasi.
•         Tidak ada persamaan persepsi.
•         Indera yang terganggu.
•         Berbicara yang berlebihan.
•         Mendominir Pembicaraan.
KOMUNIKASI
PENGERTIAN :
•         Proses penyampaian informasi.
•         Keberhasilan komunikasi tergantung dari     penguasaan materi dan cara penyampaian.
•         Proses penyampaian gagasan dari seorang    ke orang lain.
•         Proses penciptaan arti terhadap gagasan       atau ide yang disampaikan.
KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
•         Komunikasi yang berlangsung secara informal antara dua orang individu.
•         Komunikasi antar Pribadi akan berlangsung secara efektif jika pihak yg berkomunikasi menguasai ketrampilan berkomunikasi antar pribadi.
•         KOMUNIKASI
•         Komunikasi ® bahasa latin Communicate
•         Vergina Satir : Komunikasi hanya menyampaikan info, pendapat, dan ide.
•         Drs. R.I Suhartin Citrobroto :
•         Penyampaian pengertian dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang dan penyampaian tersbeut merupakan suatu proses.
•         Komunikasi adalah suatu tingkah laku/kegiatan penyampaian atau pengoperan lambang yang mengandung arti/makna.
•         Unsur komunikasi
•         Pengirim/komunikator/enkoder
•         Pesan
•         Media
•         Penerima pesan
•         Feed back
Pengirim yang baik
•         Mengirimkan pesan yang dimengerti
•         Menggunakan media yang tepat
•         Mengevaluasi pesan
Syarat Komunikasi
•         Credibility
•         Context
•         Content
•         Clarity
•         Continuity
•         Chanel
Capability
Sudut simbul yang digunakan
•         Komunikasi lisan
•         Komunikasi tulisan
•         Komunikasi isyarat
Sudut Lingkungan/Suasana
•         Komunikasi formal
•         Komunikasi informal
Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
•         Faktor Penunjang
–        Pengetahuan
–        Pengalaman   komunikator
–        Ketrampilan
•         Faktor Penghambat
–        Komunikator tidak menguasai pesan
–        Pesan tidak jelas
–        Media tak sesuai
–        Lingkungan terlalu bising
Komunikasi efektif
Syarat :
•         Bahasa baik
•         Pesan lengkap
•         Arus info seimbang
•         Dengarkan secara aktif
•         Tahan emosi
•         Perhatikan syarat non verbal
Komunikasi Terapeutik
•         Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar bertujuan dan kegiatannya di pusatkan untuk kesembuhan pasien
•         Komunikasi terapeutik ® omunikasi interpersonal dengan memberi pengertian antara perawat dengan pasien. Diberikan pada saat pasien duka, emosional., gelisah karena penyakitnya.
Kegunaan / Fungsi :
•         Mendorong dan menganjurkan kerjasama antara perawat dengan pasien melalui hubungan perawat dan pasien
•         Mengungkap perasaan, mengidentifikasi mengkaji masalah dan mengevaluasi tindakan .
Tujuan
•         Mengurangi beban dan perasaan pasien
•         Mengurangi keraguan, membantu dalam mengambil tindakan
Perbedaan komunikasi terapeutik
dengan komunikasi sosial
•         Komunikasi terapeutik
–        Terjadi antara perawat dengan pasien atau tim kesehatan lainnya
–        Lebih akrab karena punya tujuan berfokus pada pasien
–        Mendengarkan dan memberi respon pada pasien
–        Komunikasi sosial
–        Terjadi tiap hari antara orang/orang di lingkungan
–        Bersifat dangkal
Unsur komunikasi terapeutik
•         Menurut Carl Rogers
•         Perawat harus mengenali diri
•         Komunikasi ditandai dengan sikap menerima, percaya dan menghargai
•         Perawat harus memahami nilai yang dianut oleh pasien
•         Menyadari kebutuhan pasien
•         Menciptakan suasana yang menyenangkan
•         Perawat harus menguasai perasaan secara bertahap untuk mengatasi perasaan gembira, sedih, marah.
•         Memahami arti empati sebagai tindakan terapeutik
•         Kejujuran
•         Berperan sebagai role model
•         Mengekspresikan perasaan
•         Berpegang pada etika
•         Bertanggungjawab
Fase komunikasi terapeutik
•         Fase orientasi
–        Pengenalan
–        Persetujuan
–        Program orientasi
•         Fase lanjutan
–        Meningkatkan interaksi sosial
•         Meningkatkan sikap menerima
•         KT ® pemecahan dalam mengembangkan hubungan kerja
–        Meningkatkan faktor fungsional KT
•         Melanjutkan pengkajian dan evaluasi
•         Mengurangi ketergantungan pasien pada perawat
Mempertahankan tujuan
•         Fase terminasi
–        Persiapan mental ® tentang kesimpulan pengobatan
–        Mengantisipasi masalah yang timbul
–        Diskusikan perasaan terminasi
Teknik Komuniksi Terapeutik
•         Mendengarkan dengan aktif (active listening)
•         Memberi kesempatan pasien untuk mulai berbicara
•         Memberikan penghargaan
•         Mengulangi kembali Refleksi
•         Klarifikasi
•         Mengarahkan pembicaraan
•         Membagi persepsi
•         Diam
•         Memberi info
•         Memberi info
•         Open – ended question
•         Eksplorasi
Komunikasi Terapeutik dalam Proses Perawatan
•         Tahapan
•         Pengkajian
–        Tentukan kemampuan dalam info
–        Evaluasi data
–        Evaluasi kemampuan pasien
–        Observasi pasien
–        Identifikasi tingkat perkembangan pasien
–        Kaji tingkatan kecemasan
•         Rencana tujuan
–        Bantu pasien untuk penuhi kebutuhan
–        Bantu pasien menerima pengalaman
–        Meningkatkan harga diri pasien
–        Beri support ® perubahan
Perawat dan pasien ® komunikasi terbuka
•         Implementasi
–        Perkenalan diri
–        Inteaksi dengan pasien
–        Menggambarkan pengalaman pribadi
–        Mengungkapkan perasaan pasien
–        Komunikasi untuk meningkatkan harga diri
•         Evaluasi
–        Pasien mengembangkan kemampuan dalam mengkaji dan memenuhi kebutuhan
–        Komunikasi menjadi lebih luas
–        Menciptakan lingkungan ® mengurangi kecemasan
Prinsip Komunikasi Terapeutik
•         Perawat mengenali dirinya (menghayati, memahami diri serta nilai yang dianut)
•         Komunikasi ditandai sikap saling menerima dan percaya
•         Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien
•         Perawat menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik/mental
•         Pasien menciptakan suasana yang memungkinkan pasien untuk mengubah dirinya (Sikap, tingkah laku) ® memecahkan masalah
•         Perawat menciptakan yang memungkinkan pasien bebas berkembang
•         Perawat mampu menguasai perasaannya (gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun frustasi)
•         Memahami empati sebagai tindakan terapeutik dan simpati bukan tT
•         Kejujuran dan komunikasi terbuka ® dasar hubungan terapeutik
•         Mampu berperan sebagai role model
•         Altruisme ® mendapat kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi
•         Berpegang pada etika
•         Bertanggungjawab
•         Faktor yang Menghambat Komunikasi
  
–        Kemampuan pemahaman yang berbeda
–        Pengamatan/penafsiran yang berbeda
–        Komunikasi satu arah
–        Kepentingan yang berbeda
–        Memberi jaminan yang tidak mungkin
–        Membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi
–        Memberi kritik mengenai perasaan penderita
–        Mengalihkan topik pembicaraan
–        Terlalu banyak bicara ® seharusnya mendengarkan
–        Memperlihatkan sifat jemu dan pesimis
•         KERJA TIM
•         Definisi dari kelompok adalah tiga orang atau lebih yang berinteraksi dalam konteks dan tujuan bersama.
•         Norma bersama :mrp. Kumpulan aturan -2 yg diikuti anggota kelompok.
•         Tujuan bersama mengacu pada tujuan umum yang berkenaan dg tujuan kelompok. Elemen kelompok yang terpenting adalah “ interaksi “.
            contoh : tujuh org yg sedang menunggu kereta api disebuah peron mungkn mempunyai tuj bersama dan berperilaku berdasar pada aturan yg sama.
     ,kelompok kecil ( < 20 orang ) dan kelompok kecil khusus ( 7orang ).
            Kebanyakan pembuat keputusan kerja kelompok dan proses  perubahan  yg kita minati terjadi pada kelompok kecil,sbg contoh : kelompok keperawatan dan tim multidisipliner,dalam pengertian ini mrp kelompok kecil.
•         Kategori kelompok berdasar tugas dan fungsi pokok dibedakan atas :
            a. Kelompok berorientasi tugas.
                Berupaya untuk bertindak atas dan mengubah lingkungan eksternalnya.
                Kelompok yang cocok dg katagori ini adalah tim klinis,tim managemen dan
         kelompok kerja lainnya.
           
kelompok sosial
            Terutama untuk mengadakan mengadakan interaksi  yg menyenangkan bagi anggota. sebag contoh :klub – klub sosial.
c. kelompok pengembangan pribadi atau terapiutik.
    Mencoba untuk mengubah aspek-2 pikiran,emosi atau perilaku anggotanya. Kelompok ini termasuk kelompok menolong diri sendiri dimana peran individu dg satu masalah tertentu bertemu dg yang lain untuk menawarkan dukungan timbal balik.
PRISIP KOMUNIKASI KELOMPOK :
•         Bila kita menemukan diri kita dalam situasi membingungkan dlm suatu kelompok cenderung menciptakan kerangka “referensi internal”yg berlawanan dg pandangan realita. Solusinya : kembangkan representasi bersama mengenai realita untuk mencapai kesepakatan yg lebih besar.
            Kesepakatan kelompok disebut : NORMA KELOMPOK.
•         Kelemahan kita terhadap pengaruh kelompok : dipengaruhi oleh cara kita mengungkapkan penilaian dihadapan orang lain.
•         Kita khawatir untuk harus benar penilaian lebih lanjut akan menvalidasi pandangan kita. Sehingga kita harus menggunakan 2 sumber informasi dalam pembuatan penilaian keputusan yaitu : pengalaman kita sendiri dan pandangan dari kelompok. 
            Bila tetap hasil bertentangan harus segera putuskan sumber informasi yg paling dapat diandalkan.
            Jenis informasi ini dikenal sebagai: pengaruh informasional,karena menggunakan informasi lain untuk sumber informasi tambahan.
            Prinsip dalam suatu kelompok : Menjadi orang yang percaya diri sesuai yang diharapkan.
•         Pembuatan keputusan kelompok tidak hanya sekedar mencari tujuan mencapai konsesus pandangan anggota kelompok. Contoh : suatu pertemuan dimana perawat disebuah bangsal mendiskusikan tanggagapan terhadap proposal baru prosedur perawatan pasien. Cenderung mereka menginginkan kekuatan perlawanan yang berbeda – beda. Pertemuan seperti ini sebaiknya dimulai dengan para anggota kelompok menulis gagasan akan tema masalah dan dicatat untuk umum misal dipapan. Kemudian diinventaris dan diurutkan dan dirangking.
•         KAJIAN TENTANG KELOMPOK
            adalah hal penting  bagi organisasi karena mereka dapat bertindak sebagai mediator untuk pencapaian tugas.
            10 fungsi organisasi yang dapat dicapai oleh kelompok :
            1. Pembagian kerja.
            2. Penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
            3. Pengolahan informasi.
            3. Pengumpulan informasi dan ide.
            4. Pengeloaan dan pengendalian kerja
            5. Menguji dan meratifikasi keputusan.
•         Handy ( 1985) mengatakan bahwa individu menggunakan kelompok untuk :
            1. Memenuhi kebutuhan sosial.
            2. Membentuk konsep diri.
            3. Memberi atau menerima dukungan dan bantuan.
            4. Berbagi dengan orang lain.
@ KARAKTERISTIK KELOMPOK :
  1. Anggotanya memiliki hubungan tatap muka.
  2. Terdapat lebih dari satu anggota.
  3. Anggotanya memiliki tujuan /maksud bersama.
  4. Anggotanya dibedakan dalam struktur.
  5. Anggotanya menganut sekumpulan nornma2.
@ Definisi lain dari kelompok adalah :
            Dua atau lebih orang yg berinteraksi satu sama lain untuk suatu tujuan tertentu dan sama-2 memiliki sedikitnya satu tujuan. Orang yg terlibat biasanya mengisi peran dan mentaati peraturan-2 dan norma yg secara implisit dan eksplisit disetujui diantara para anggotanya.
@ INTERAKSI KELOMPOK
@ KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK
•         Baro et al membedakan ada pemimpin yg berorientasi pada tugas dan pemimpin yang berorientasi pada orang.
            Jenis pemimpin ini menggunakan waktu secara efektif. Kadang perlu kelompok mempunyai pemimpin yg berorientasi pada tugas. Jk terdapat kebutuhan untuk berfokus pada mslh tugas yg hrs diseleseikan segera. Contoh : Perawat senior yg ditunjuk untuk membuat kebijakan protap pemberian obat.
.
MODEL ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL ( MAKP )
            Keberhasilan suatu asuhan keperawatan kepada klien sangat ditentukan oleh pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan profesional.Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan dan tuntutan perkembangan IPTEK maka metode askep harus efektif dan efesien.
•         DASAR PERTIMBANGAN PEMILIHAN MODEL MAKP
            1.Sesuai dengan visi dan misi Rumah Sakit/institusi terkait.
            2. Dapat diterapkannya proses asuhan keperawatan.
            3. Efisien dan efektif penggunaan biaya.
            4. Terpenuhinya kepuasn pasien,keluarga dan masyarakat.
            5. Kepuasan kinerja perawat.
            6. Terlaksanya komunikasi yg adekuat antara perawat dan tim kesh lainnya.
           
•         JENIS MODEL MAKP ADALAH :
            1. Fungsional.— Berdasarkan orientasi tugas.PJ : perawat yg bertugas pada saat itu.
                Perawat melaksanakan tugas/tindakan berdasarkan jadwal kegiatan yang ada.
                Pada saat itu masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat.( R.perawatan
                dalam ,bedah dst )
            2. Kasus — Berdasarkan pendekatan holistik
                Perawat bertanggung jawab terthdp asuhan dan observasi pad pasien tertentu.
                Ratio : 1perawat : 1 pasien – perawatan khusus contoh : ICU
            3. Primpek
                Perawat bertanggungjawab terhadap semua aspek askep.
                Ratio 1:4/5. Metode penugasan 1 perawat bertanggung jawab penuh muali pasien
                masuk s/d keluar RS.Perawat bertg jwb penuh selama 24 jam.   
4.     TIM.
•         METODA KELOMPOK ( TIM
•         Tim perawatan merupakan suatu metoda penyerahan keperawatan yg menyatukan profesional,tehnik dan masa lalu para personal keperawatan dalam tim – tim kecil dari dukungan para karyawan yg sama shg mengkombinasikan pengetahuan dan keahlian para perawat profesional yg tinggi dg yang rendah.
            contoh anggota tim :
            2 orang perawat profesional dan 1 atau 2 perawat praktek serta 1 atau 2 pembantu perawat,
•         Seorang perawat yg ditunjuk sebagai ketua tim/kelompok dimana seluruh anggota dapat menerima laporan mengenai kebutuhan -2 pasien mereka dari pimpinan kelompok dari jam berikutnya.
•         Ketua tim membagi pasien dan anggota mengidentifikasi kebutuhan aspek perawatan bagi pasien masing-2.
•         KEPERAWATAN TIM.
•                     Metode ini menggunakan tim yg terdiri dari anggota yang berbeda – beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi 2-3 grup
•                     / tim yang terdiri dari tenaga profesional,tehnikal dan pembantu grup.
•         KELEBIHANNYA :
•                     1. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
•                     2. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
•                     3. memungkinkan komunikasi antar tim shg konflik mudah diatasi dan memberi
•                        kepuasaan kepada anggota tim.
•         KELEMAHAN :
•                         Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim
•                         yg biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-
•                         - 2 sibuk.
•         KONSEP METODE TIM
•                         a. ketua tim sebagai perawat profesional hrs mampu menggunakan berbagai
•                            tehnih kepemimpinan.
•                         b. pentingnya komunikasi yg efektif agar kontiunitas rencana keperawatan terjamin
•                         c. Anggota tim harus menghargai ketua tim.
•                         d. Model tim akan berhasil dengan baik bila didukung oleh kepala ruang.
MANAJEMEN KONFLIK
•         Marquis dan Huston 1998 mendifinisikan konflik : sbg masalah internal dan eksternal yg terjadi sbg akibat dari perbedaan pendapat,nilai-2 atau keyakinan dari dua orang lebih.
•         KONFLIK tejadi dari suatu ketidak setujuan antara dua orang atau organisasi dimana seseorang tsb menerima sesuatu yg akan mengancam kepentingannya.
•         Sumber Konflik di organisasi dapat ditemukan pada : kekuasaan,komunikasi,tujuan seseorang dan organisasi,ketersediaan sarana,perilaku kompetisi dan personality dan peran yg membingungkan.
•         KONFLIK sering terjadi pada setiap tatanan asuhan keperawatan.
•         Asumsi dasar tentang KONFLIK meliputi :
            1. Konflik seseuatu yg tidak dapat dihindari dalam suatu organisasi.
            2. Jika konflik dapat dikelola dg baik, konflik dapat menghasilkan
                 kualitas produksi,penyeleseian yg kreatif dan berdampak pada
                 peningkatan dan pengembangan produktifitas.
Belajar menangani konflik scr konstruktif dg menekankan pd “ win – win solution merupakan ketrampilan kritis dalam manejemen
•         KONFLIK dpt berupa sesuatu yg kualitatif ataupun kuantitatif,meskipun konflik berakibat stress,konflik dpt meningkatkan produktifitas dan kreatifitas.
•         Mengelola konflik yg konstruktif akan menghasilkan lingkungan yg kondusif utk didikusikan sbg suatu fenomena utama,komunikasi terbuka mll ekspress feeling dan tukar pikiran serta tg jwb yg menguntungkan dlm menyeleseikan suatu perbedaan.(Erwin 1992 )
KATAGORI KONFLIK.
Konflik dapat dibedakan menjadi 3 jenis :
  1. Intrapersonal.
  2. Interpersonal
  3. Antar kelompok
Ad 1. Intra personal adalah konflik yg terjadi pada individu sendiri.
Keadaan ini adl mrp masalah internal utk mengklarifikasi nilai dan
keinginan dr konflik yg terjadi.sbg akibat dari kompetisi peran. Misal :
konflik intrapersonal dg loyalitas thd profesi keperawatan,loyalitas
thd pekerjaan,loyalitas kpd pasien.
•         Ad 2. Interpersonal konflik antara dua orang atau lebih dimana nilai,tujuan dn keyakinan berbeda.Konflik ini sering terjd krn sesorg scr konstan berinteraksi dg orang lain shg ditemukan perbedaan.
•         Ad 3. Antar kelompok  konflik terjadi antara dua atau lebih dari kelompok orang,departemen atau organisasi.Sumber konflik jenis ini adl hambatan dlm mencapai kekuasaan dan otoritas,keterbatasan sarana prasarana.
PROSES KONFLIK
Proses konflik dibagi menjadi beberapa tahapan :
  1. KONFLIK LATEN  : konflik yg terjadi terus menerus dlm suatu organisasi
            mis : kondisi ttg keterbatasan staff dan perubahan scr cepat.kondisi tsb memicu ketdk stabilan suatu organisasi meskipun kadang tdk nampak scr nyata atau tidak pernah terjadi.
  1. FELT KONFLIK ( KONFLIK YG DIRASAKAN )
            Konflik yg tjd krn adanya suatu yg dirasakan sbg ancaman,ketakutan,tdk percaya dan marah. Disbt jg sbg konflik effective.
  1. KONFLIK YG NAMPAK/SENGAJA DIMUNCULKAN.
            Konflik yg senagaja dimunculkan utk dicari solusi.tindakan yg dilaks mungkin menghindar,kompetisi,debat atau mencari penyeleseaian konflik.
  1. RESOLUSI KONFLIK
            Suatu penyeleseian masalah dg cara memuaskan semua org yg terlibat didlmnya dg prinsip win – win solution.
  1. KONFLIK AFTERMATH :
            Konflik yg terjadi akibat dr tdkterseleseikannya konflik yg pertama.